• Home
  • Exhibitions
    • Bali Painting Exhibitions 2011
    • Bali Painting Exhibitions 2010
    • Bali Painting Exhibitions 2009
  • Artists
  • Art Gallery
  • Photos
  • Articles
  • Contact Us

THINK

Proyek Seni Rupa 10 Fine Art 2011

Oleh Arif Bagus Prasetyo

Menilik asal-usul anggotanya, kelompok seni rupa 10 Fine Art dapat dipandang mengusung pola lokalitas. Para perupa anggota kelompok ini berbasis di, dan memiliki hubungan lahir-batin dengan, kawasan Sanur-Denpasar. Sembilan anggotanya adalah orang Bali (I Made Budi Adnyana, I Made Dolar Astawa, I Ketut Teja Astawa, I Wayan “Apel” Hendrawan, I Wayan Muliastra, A.A. Ngurah Paramartha, I Wayan Paramartha, Ida Bagus Putu Purwa, I Made “Romi” Sukadana), ditambah satu orang beretnis non-Bali (Vinsensius Dedy Reru).

Di Sanur, kelompok ini bermarkas di galeri non-komersial “10 Fine Art” yang mereka kelola secara swadaya, berdiri sejak tahun 2004. Boleh dibilang, saat ini galeri “10 Fine Art” adalah satu-satunya “galeri seniman” yang aktif dan berumur panjang di Bali. Selain memajang karya-karya anggota 10 Fine Art, galeri ini kerap dipakai pameran oleh perupa individual maupun kelompok lain, semacam ruang alternatif bagi perupa muda yang kesulitan mencari tempat berpameran. Tentu saja, meski punya galeri sendiri, 10 Fine Art maupun individu-individu anggotanya juga aktif berpameran di berbagai tempat lain.

Praktis semua kelompok seni rupa yang saat ini eksis di Bali, termasuk 10 Fine Art, tidak mengibarkan bendera ideologi atau estetika kelompok. Pada umumnya, kelompok dibentuk berdasarkan kecocokan personal di antara anggotanya, tanpa misi ideologis tertentu yang diperjuangkan bersama, atau visi estetik tertentu yang diusung bareng. Semua kelompok seni rupa di Bali dewasa ini berciri “komunitas”, bukan “partai”. Dalam satu kelompok, isinya aneka-warna, tidak sewarna. Warna ideologi dan estetika yang cukup menonjol pernah terlihat dalam Klinik Seni Taxu, tapi kelompok ini sekarang sudah tidak aktif (mungkin bubar, atau tenggelam ditelan individu-individu anggotanya yang sukses bersolo karier). Dulu, Sanggar Dewata Indonesia didirikan dengan visi-misi menerjemahkan ruh Bali ke dalam ekspresi seni rupa modern, tapi kini ideologi dan estetika “modernisme spirit Bali” jelas tidak lagi dominan di kelompok besar ini. Rata-rata kelompok seni rupa di Bali saat ini tidak punya kepercayaan ideologis-estetik khas. Mereka memberikan kebebasan berekspresi sebesar-besarnya kepada anggota. Oleh sebab itu, lumrah saja jika anggota satu kelompok merangkap jadi anggota kelompok lain. Sebagian anggota 10 Fine Art, misalnya, tergabung dalam Himpunan Perupa Sanur (HPS) yang juga berafiliasi dengan kawasan Sanur.

Dewasa ini, rumus umum dalam formasi kelompok seni rupa di Bali adalah: Dengan bergabung membentuk kelompok, bukan berarti kreativitas seniman harus tunduk pada kaidah penciptaan seni yang berlaku kolektif. Seniman anggota kelompok tetap bebas berkarya secara personal. Dengan rumus ini, pameran-pameran oleh kelompok seni rupa di Bali umumnya mengambil salah satu dari tiga modus berikut: Modus (1) ide/tema individual, penggarapan individual, karya atas nama pribadi: pameran kelompok tidak menampilkan “karya kelompok”, melainkan “kumpulan karya perseorangan” yang berbeda-beda gagasan maupun tampilan; Modus (2) ide/tema kolektif, penggarapan individual, karya atas nama pribadi: masing-masing anggota membikin karya bebas sesuai tema yang ditentukan bersama; Modus (3) ide/tema kolektif, penggarapan kolektif, karya atas nama kelompok: semua anggota gotong-royong membikin satu karya bersama, misalnya instalasi atau lukisan tunggal.

Ketiga modus tersebut pernah dijajal oleh kelompok 10 Fine Art, yang menjunjung tinggi etos kebebasan kreatif anggotanya. Modus (1): dalam beberapa pameran 10 Fine Art, misalnya di Yogyakarta dan Batu, masing-masing anggota menyetor sejumlah tertentu karya individual bertema bebas. Modus (2): dalam pameran perdana 10 Fine Art dan sekaligus peresmian galeri mereka, tujuh tahun silam, setiap anggota menciptakan lukisan bertema sama, “potret-diri telanjang”. Modus (3): dalam sebuah pameran di Bali, semua anggota 10 Fine Art melukis bareng pada satu kanvas.

Pada kesempatan pameran bersama tiga kelompok seni rupa di Galeri Tanah Tho, Ubud, 10 Fine Art meluncurkan Modus (4).

Mengisi-ulang The Thinker

Untuk pameran ini, pada awalnya 10 Fine Art hanya ingin menegaskan azas pembentukan kelompok ini: kebersamaan, kekompakan, kesatuan, yang dijiwai semangat menghargai perbedaan. Berbeda-beda tapi satu. Bhinneka Tunggal Ika. Ditampilkan sepuluh karya dari 10 anggota yang berkreasi sesuai keyakinan estetik dan kecenderungan artistik masing-masing (Bhinneka), tapi dengan format seragam (Tunggal), dan satu tema (Ika). Maka dipilihlah “jangkar tematik” yang menyatukan perbedaan: citra The Thinker, adikarya patung maestro Perancis, Auguste Rodin (1840-1917). Pertama-tama, Modus (2) diterapkan: ide/tema kolektif, penggarapan individual, karya atas nama pribadi. Masing-masing anggota membikin lukisan bebas dengan tema The Thinker.

Kenapa The Thinker? Alasannya sederhana: karena karya Rodin yang satu ini adalah salah satu patung paling terkenal di dunia. Pose patung lelaki kekar duduk merenung ini luar-biasa kondang, sehingga ketika pose ini muncul dalam 10 lukisan yang berbeda-beda, pemirsa tetap mudah mengidentifikasi tema tunggal yang digarap. Tak cukup dengan tema tunggal, format lukisan pun diseragamkan. Ukuran kanvas mereka sama. Dari banyak foto The Thinker yang dijepret dari berbagai angle di media-massa, diambil salah satu saja, kemudian konturnya dijadikan mal atau pola dasar lukisan. Setiap anggota bebas melukis The Thinker versi pribadi, asalkan tetap memakai mal ini. Hanya dibikin satu mal, yang digunakan oleh 10 pelukis secara bergiliran.

Dalam praktik seni rupa kontemporer di Indonesia, sudah lumrah ada pameran bersama yang menampilkan macam-macam karya dari hasil tafsir-bebas perupa terhadap satu tema. Misalnya, pameran bersama “membaca” Frida Kahlo, Chairil Anwar, perang, pemanasan global dsb. Apakah 10 Fine Art menafsir-bebas atau “membaca” The Thinker? Kesannya memang begitu, tapi sebetulnya tidak. Mereka lebih tepat disebut “meminjam” The Thinker. Citra The Thinker cuma dipinjam untuk bikin mal. The Thinker diperlakukan sebagai semacam “wadah kosong” yang bebas diisi dengan materi apapun sesuai kemauan masing-masing perupa. Mereka tidak menambahkan atau menumpukkan makna baru pada makna orisinal The Thinker, seperti dalam proses tafsir-bebas atau “membaca”, melainkan justru mengosongkan The Thinker dari makna apapun, kemudian mengisinya dengan makna personal yang secara substansial tidak berkaitan dengan The Thinker. Kaitan yang dijalin dengan The Thinker hanya sebatas permukaan, kulit, superfisial – sebatas mal. Karya mereka bukan “reinterpretasi”, melainkan “reload”. Cuma segitu? Bentuk The Thinker dikosongkan dari isi, kemudian diisi-ulang? Tentu tidak. Kelompok 10 Fine Art tidak sekadar “mengisi-ulang”, tapi “mengisi-ulang sampai meluap”.

Estetika Ekses

Dalam proyek seni rupa Think, masing-masing anggota 10 Fine Arts tidak hanya menampilkan “lukisan The Thinker”, tapi juga “foto The Thinker”. Setiap karya adalah two-in-one, terdiri dari dua bagian integral: satu lukisan dan satu foto bertema sama. Bagian “lukisan The Thinker” menegaskan identitas para anggota kelompok ini sebagai pelukis, subjek otonom yang berkuasa penuh menciptakan makna secara mandiri dengan mengobjekkan dunia. The Thinker dalam lukisan mereka tidak lebih dari objek yang bebas dieksploitasi. Sebaliknya, bagian “foto The Thinker” justru mengaburkan identitas para anggota kelompok ini sebagai subjek otonom-mandiri pencipta makna. Mereka menggelar sikap ironis, semacam otokritik, terhadap posisi subjek mereka sendiri selaku kreator yang memegang otoritas tunggal dalam seni lukis.

Dalam karya foto The Thinker, masing-masing perupa memerankan tokoh The Thinker. Mereka bebas mau jadi sosok The Thinker macam apa, bebas memilih kostum dan riasan untuk berpose sebagai The Thinker versi pribadi. Tapi tidak seperti dalam lukisan potret-diri atau aksi performing art, mereka tidak bisa langsung menemui pemirsa. Untuk menemui pemirsa, harus lewat perantara pihak lain: fotografer yang memotret mereka. Otoritas penciptaan dan pemaknaan tidak bisa lagi dipegang sendiri seperti ketika melukis, tapi harus dibagi dengan fotografer dari sesama anggota kelompok, maupun pihak-pihak lainnya lagi. Selain fotografer, intervensi pihak lain juga terlihat ketika sebagian pelukis-performer minta bantuan dirias teman, berdialog dan berinteraksi dengan teman-teman sepanjang proses pemotretan. Dialog dan interaksi dengan teman sekelompok ini besar pengaruhnya terhadap “performing” The Thinker dalam karya foto. Dalam sesi pemotretan, teman-teman sekelompok menjadi tukang, mitra, suporter dan pencipta-pendamping (co-author). Yang berkuasa bukan lagi mata sang pelukis saja, melainkan juga mata fotografer, mata kamera, mata teman-teman, mata komputer grafis, mata mesin printer dst. Inilah Modus (4): ide/tema kolektif, penggarapan kolaboratif, karya atas nama pribadi.

Dalam penciptaan karya foto The Thinker, perupa menerapkan kerangka berpikir “Think Outside the Box”. Berpikir di luar kebiasaan mereka selama ini. Jangan lupa, semua anggota 10 Fine Art adalah pelukis, bahkan boleh dikata dari jenis “pelukis konvensional” yang percaya pada “kemurnian” seni lukis, sebagaimana tersirat dari istilah “fine art” pada nama kelompok mereka. Indikasi lain, pameran 10 Fine Art di Yogyakarta tahun lalu bertajuk “Ten Made”, berasosiasi dengan konsep “hand made” atau karya buatan tangan. Dengan konsep tersebut, mereka “tak mau melukis dibantu artisan seperti banyak dilakukan pelukis sekarang, dan tidak tertarik mengubah gaya lukisan sekedar agar dianggap ‘kontemporer’” – sebuah pernyataan sikap yang sempat dikomentari oleh pengamat seni rupa setempat dan digarisbawahi oleh liputan di media-massa. Namun dalam proyek seni rupa Think, mereka berani keluar dari kotak konvensi. Sebagai pelukis, mereka biasa menjadi subjek yang mengeksploitasi, tapi kini menjadi objek yang dieksploitasi. Mereka biasa melukis model, termasuk melukisi tubuh model dalam acara body painting yang sering digelar di Sanur, tapi kini malah jadi model. Tubuh mereka biasa mengeksekusi medium, tapi kini justru jadi medium yang dieksekusi. Dalam proyek Think, mereka melukis dan sekaligus dilukis.

Citra tubuh perupa dalam foto The Thinker bukan “karya pribadi” yang bebas intervensi pihak lain. Bukan “karya kelompok”, karena “sutradara” pemotretan masih dipegang pelukis-performer bersangkutan. Bukan pula “karya kolaborasi” dalam arti perpaduan sejumlah gaya personal. Lantas apa? Think. Tidak jelas? Justru klaim-klaim dan patok-patok “kejelasan” itulah yang sedang diganggu, dipertanyakan, diinterogasi – demi membuka ruang-ruang kemungkinan kreatif baru. Pada zaman ketika pelukis boleh melukis dengan intervensi kamera, komputer, artisan, kurator, bahkan art dealer, di manakah posisi subjek sang pelukis? Think.

Dalam proyek seni rupa Think, “ketidakjelasan” sengaja dibangkitkan untuk menantang “kejelasan” identitas seniman sebagai subjek otonom pencipta makna. Di sini “ketidakjelasan” dipahami secara positif sebagai ruang kreatif di luar kotak kenyamanan, wilayah eksplorasi baru yang belum dikenal, sinonim dengan “eksperimen” yang mendobrak kebekuan. Mengutip filsuf kontemporer John Rajchman dalam “The Lightness of Theory”, seni harus menjadi eksperimental, terbuka ke wilayah tak dikenal. Untuk itu kita perlu memperkenalkan sedikit ketidakpastian tentang diri kita atau “identitas” kita. Kita perlu menyelamatkan pertanyaan subjektivitas dari biografi banal dan posisi yang terdefinisikan. Kita harus mencapai titik di mana berpikir adalah keluar dari “diri” kita sendiri dan menjadi “orang asing bagi diri kita”, dan kemudian “menciptakan diri kita”…

Dijiwai spirit eksperimentasi, proyek seni rupa Think merepresentasikan suatu “estetika ekses” – adaptasi istilah “tontonan ekses” yang digunakan oleh Roland Barthes, dalam esai “Dunia Gulat”, untuk menggambarkan pertandingan gulat Amerika (pertandingan gulat akting, bukan olah-raga gulat sungguhan). Dalam karya lukisan+foto Think, sebagaimana dalam gulat Amerika, “gestur-gestur yang berlebihan dieksploitasi hingga ke batas maknanya”. Para pelukis-performer mempergunakan intuisi artistik dan kepekaan teatrikal, kebebasan ide dan keterampilan teknis, juga busana dan gerak, untuk memproduksi citra-citra yang “diisikan sampai meluap” dan menyejajarkan unsur-unsur yang bertentangan: fine art/anti-fine art, karya individu/karya kolektif, buatan tangan/buatan mesin, melukis/dilukis, mandiri/bergantung, otonom/kontingen, subjek/objek dst. Karya lukis mengisikan makna pada The Thinker yang dikosongkan maknanya. Dan karya foto menambahkan makna lagi sampai meluap.

Alih-alih bergulir ke sebuah kesimpulan logis, luapan makna The Thinker versi 10 Fine Art membeberkan kemungkinan-kemungkinan dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang subjektivitas. Proyek seni rupa Think menyodorkan pelukis sebagai pencipta sekaligus ciptaan, subjek sekaligus objek, model, media, user, instrumen dan properti sekaligus. Sebuah narasi ekses yang terbentuk dari ketidakjelasan identitas, sebagaimana diresepkan John Rajchman untuk seni yang menjadi eksperimental.

Parodi, Humor, Seni Proses

Karya foto Think, terutama, tampak memparodi The Thinker yang dijadikan teks rujukan. Teks baru yang berupa karya foto tersebut, “dihasilkan sebagai hasil dari sebuah sindiran, plesetan atau unsur lelucon dari bentuk, format, atau struktur dari teks rujukan” – mengutip uraian Yasraf Amir Piliang tentang parodi dalam Hipersemiotika (2003). Unsur lelucon sangat terasa dalam penampilan para pelukis-performer yang meniru pose patung The Thinker. Lihatlah bagaimana The Thinker yang aslinya figur lelaki berotot dan sangat serius itu bertransformasi menjadi banci penari legong (I Wayan Paramartha), badut (I.B. Putu Purwa), punakawan (I Made Dolar Astawa), Superman (I Made “Romi” Sukadana), raja gondrong bugil (A.A. Ngurah Paramartha), model body painting (I Made Budi Adnyana), pemusik (Vinsensius Dedy Reru), lelaki kurus bertato (I Wayan “Apel” Hendrawan), lelaki Bali telanjang dada (I Ketut Teja Astawa) dan lelaki berbadan genjur (I Wayan Muliastra).

Tetapi, karya foto parodik The Thinker tidak sekadar menebar kelakar. Humor menegaskan hakikat karya foto ini sebagai potret-diri ironis, semacam ruang otokritik terhadap citra romantik seniman modernis yang lazim digambarkan sebagai sosok heroik, eksentrik dan soliter yang terpisah dari masyarakat umum, “binatang jalang dari kumpulannya terbuang” – mengutip sajak Chairil Anwar. Dalam proyek seni rupa Think, karya foto yang lucu dan playful menyodorkan narasi-tanding yang mensubversi karya lukis, produk serius sang seniman jenius superior yang berkreasi sendirian di kesunyian menara gading studionya. Dua bentuk karya ini merupakan pasangan yang tak terpisahkan dan saling melengkapi, bagaikan ying dan yang, tesis dan anti-tesis yang berpadu dalam sintesis kreatif.

Pasangan lukisan+foto Think hanya titik kulminasi yang kasatmata dari perjalanan proyek seni rupa ini. Batang-tubuh karya Think secara utuh sesungguhnya meliputi keseluruhan dinamika proses kreatif yang bukan saja berisi aktivitas lukis dan fotografi, tapi juga melibatkan dialog, diskusi, interaksi, negosiasi, toleransi, revisi, pinjam-meminjam, trial and error dalam pencarian karakter The Thinker versi pribadi, “korban perasaan” dst. Sebagian proses ini terekam dalam dokumentasi-lahir yang menjadi bagian dari presentasi karya, sebagian besar sisanya menjadi dokumentasi-batin yang memperkaya pengalaman berkesenian para perupa 10 Fine Art. Proyek seni rupa Think adalah sebuah seni proses.

Bali Painting and Gallery - Tanah Tho Gallery

Painting Inquiry


No Painting currently added.

Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us