KELOMPOK GALANG KANGIN 2011
Oleh HARDIMAN
The social structure and the state are continually evolving out of the life-process of definite individuals, but individuals, not as they may appear in their own or other people’s imagination, but as they really are--Marshal Shalins--[1]
APA yang dikemukakan Marshal Shalins di atas adalah tanggapannya terhadap pemikiran Karl Marx perihal ideologi dan hakekat manusia. Shalins sampai pada kesimpulan bahwa Marx mendahului Durkheim dalam mengemukakan konsepsi tentang kemungkinan terjadinya derivasi antara kategori pemikiran dengan pengalaman sosial manusia . Pemikiran manusia, tegas Shalins, bisa terwujud dalam bentuk ideologi yang bisa mengaburkan hakekat realitas sosial sebenarnya, yang dalam kehidupan riil sebuah masyarakat bisa mengandung banyak sekali kontradiksi. [2] Pokok pemikiran Shalins yang juga terbilang menarik adalah tanggapan terhadap Marx. Shalins menegaskan bahwa dirinya tidaklah tertarik pada keindahan, melainkan kepada perkara ketentuan sebuah produksi yang dilaksanakan dalam sebuah tatanan sosial, dalam sebuah kebudayaan.
Pokok pikiran Shalins ini, hemat saya amat tepat jika digunakan dalam proses analisis karya-karya seni rupa dari Kelompok Galang Kangin. Ada persoalan produksi yang tumbuh dalam tatanan sosial tempat para anggota Kelompok Galang Kangin ini tumbuh. Kita paham betul bahwa hari-hari ini, Bali sedang tumbuh menjadi sebuah kebudayaan yang, jika dibandingkan dengan dasawarsa sebelumnya, sungguh menjadi Bali yang lain. Pertumbuhan yang distimulus oleh industri pariwisata ini, bagaimanapun menyeret masyarakat Bali menuju sebuah lingkaran industri. Logika yang segera bisa ditarik dari rute ini adalah logika produksi. Bagaimana misalnya segala praktik budaya bisa dihayati, diapresiasi, dan diamini sebagai komoditas. Sejurus dengan itu, praktik budaya ada dalam wilayah komodifikasi, tempat bertarungnya berbagai benda dan jasa dalam lalulintas pencapaian kemakmuran.
Tentu saja, rute ini mengakibatkan lahirnya berbagai pertarungan teks. Teks dalam pengertian ini adalah segala wacana, ideologi, dan berbagai horizon harapan lainnya. Teks-teks ini bukan hanya saling bertarung untuk menumbangkan teks-teks lain, tetapi senantiasa memperkuat dirinya dengan jalan membangun pengaruhnya terhadap (teks) yang lain. Dalam praktik budaya, khusunya kesenian, teks ini bisa menjelma menjadi karya sastra, karya pertunjukan, karya seni rupa, dan berbagai genre kesenian lainnya.
Di Bali, dua dasawarsa yang lalu, teks-teks visual ini lebih menyoal perkara dirinya. Ia (teks visual) bukan hanya bersifat narsis yang memuja realitas fisikal dirinya, tetapi juga tidak percaya terhadap muatan. Prinsip modernisme yang menjadi panutannya, memang menegaskan bahwa segala yang di luar urusan visual hanya akan mengotori seni rupa. Tentu saja dalil itu kini tidak lagi dipercayai sebagai kebenaran estetik. Kepercayaan bergeser secara dramatik ke persoalan muatan. Begitulah, para seniman secara berjamaah bermigrasi dari persoalan visual ke persoalan muatan.
Kelompok Galang Kangin tak terkecuali, ia pun melakukan migrasi. Kemana kelompok ini bermigrasi? Pameran ini adalah jawabannya. Setidaknya, kalau belum menjadi jawaban, pameran ini adalah rute migrasi itu: sebuah jarak yang ditempuh untuk mencapai tujuan.
***
Sejak lama kelompok Galang Kangin menyandang lebel sebagai kelompok yang mengutamakan estetika formalistik. Bisa dimengerti jika lebel itu lama melekat pada mereka, musababnya adalah bertahun-tahun Kelompok Galang Kangin senantiasa melalukan eksplorasi di seputar persoalan formal keseni rupaan. Bentuk misalnya dijadikan alat sekaligus tujuan. Tak heran jika pencapaian estetik kelompok ini adalah pencapaian kebentukkan. Sejumlah karya yang digubah anggota kelompok ini memerlihatkan pencapai olahan bentuk yang tingkat keseriusan eksplorasinya tampak jelas. Jika ada sejumlah karya dengan pokok bahasan seputar manusia, hewan, benda-benda, atau obyek lainnya, lebih dihayati sebagai titik berangkat untuk mencapai kualitas bentuk. Nyaris tak ada muatan yang dibebankan pada karya mereka.
Pemujaan terhadap bentuk memang tidak masalah. Bahasa seni rupa dalam bentangan sejarahnya sering juga dinilai sebagai sejarah bentuk. Bisa dimengerti karena wilayah seni rupa, dalam banyak hal, adalah wilayah bentuk. Tetapi, kini dunia pemikiran seni rupa sedang tidak percaya sepenuhnya terhadap bentuk belaka. Sejalan dengan pemikiran dalam dunia filsafat dan sosial, dunia bentuk itu diperluas visinya ke dunia pernyataan. Tak terhindar maka seni rupa pun kini menjadi wilayah untuk menyampaikan pernyataan tertentu tentang suatu hal.
Kelompok Galang Kangin, tampaknya sedang melakukan migrasi pemikiran dari (hanya) persoalan formal bergeser ke persoalan pernyataan atau muatan. Jika diibaratkan, hari-hari kemarin Kelompok Galang Kangin telah memiliki kamarnya sendiri, yaitu estetika formalistik itu, maka mereka kini sedang (berusaha) keluar dari kamarnya. Migrasilah mereka ke kebun belakang. Ya, kebun belakang. Dalam kebudayaan kita, kebun belakang adalah tempat tanaman sehari-hari yang siap dipetik; kebun belakang adalah tempat tanaman obat yang bisa dimanfaatkan setiap saat; kebun belakang adalah tempat istirahat; kebun belakang adalah tempat merenung; dan kebun belakang adalah tempat yang menghubungkan dunia interior dengan dunia eksterior.
Kebun belakang dalam jagat rumah kita keberadaannya sama pentingnya dengan kamar tidur, kamar mandi dan dapur. Kebun belakang kerap dikunjungi pada sore hari menjelang matahari terbenam. Bukan proses produksi pertanian yang menjadi target aktivitas di kebun belakang, tetapi lebih pada proses permenungan. Inilah tempat kita mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan sepanjang hari.
***
Mari cermati karya-karya migrasi para anggota Galang Kangin dalam pameran ini. Ada tiga kecenderungan utama yang memerlihatkan proses migrasi para anggota Kelompok Galang Kangin ini. Pertama adalah pemanfaatan benda temuan sebagai medium, simbol dan pernyataan. Karya I Wayan Setem yang secara berterusterang membiarkan botol coca-cola telanjang atau berbalut cat putih segera menyeret ingatan kita tentang wilayah kapitalisme, dunia Amerika, atau mungkin dunia konsumsi yang instan. Botol-botol ini bersayap dan menopang mahluk mitologis Singa bersayap. Ada banyak makna yang bisa dibangun dari karya ini. Serupa itu, I Made Supena membawa perahu dengan orang-orang yang bergerak di atasnya. Perahu yang besar—jika dibandingkan dengan orang-orang itu—tidak ada yang mengendalikannya. Dari karya ini, seolah muncul pertanyaan: hendak kemana perahu itu berlabuh? Atau, (si)apa yang mengendalikan perahu itu? Atau,siapa orang-orang itu? Karya Diwarupa, kurang lebih menyoal hal serupa, benda temuan seperti mur, baut, gir, atau benda logam lainnya dirangkai menyerupai parabola, pemancar atau bahkan jejak mahluk ufo. Ada ketegangan yang ulang-alik antara kekuatan, teknologi, kekerasan, kebekuan, dan wajah kita yang terlefleksikan di permukaan cermin tempat benda-benda itu menempel. Bagi I Dewa Soma Wijaya, serpihan batu padas adalah benda bekas. Struktur dan susunan benda-benda ini menyerupai totem batu. Karya ini seolah ingin menceriterakan bahwa benda bekas itu menjelma menjadi keabadian. Kita tampaknya digiring kepada bekas keabadian dan bukan keabadian yang membekas. Dan, bagi I Made Galung Wiratmaja, batas anatara karya dua dimensi dan karya tiga dimensi sedang dikaburkan. Wilayah dimensi itu hanyalah cara mudah dalam kategorisasi keilmuan. Galung sedang meragukan batas itu. Karyanya tegas memerlihatkan dua dimensi tetapi juga tiga dimensi.
Sejak pemikiran kontemporer mengijeksi para seniman, kesadaran akan batas-batas mulai dihapus. Setem, Supena, Diwarupa, Soma Wijaya, dan Galung tampaknya termasuk seniman yang mulai meragukan batas-batas itu. Material karyanya yang, dasawarsa yang lalu, kerap dikategorikan sebagai material nista, dilenyapkan dari batasan itu. Kualitas estetik memang tidak melekat pada materialnya. Kesadaran ini pula yang menstimulus olah kreatif mereka. Agaknya mereka sadar bahwa benda-benda telah memiliki maknanya sendiri dalam bangunan kultural tempat benda itu berada. Dan, mereka memanfaatkan realitas kultural itu melalui makna konotatif, simbolik, citra, atau makna-makna lain yang bisa dibangun oleh apresian karya mereka.
Kedua, perkara kategori nista. Kategori ini dimaknai ulang oleh A.A. Eka Putra, Nyoman Ariwinata, dan I Made Gunawan. Dua seniman pertama memilih drawing sebagai mediumnya. Dalam banyak hal, drawing kerap dimaknai sebagai karya awal, bagan, atau serupa rancangan bakal karya. Tapi, Eka dan Ari tidak menganggap karya mereka sebagai bagan, karyanya adalah karya final. Karya yang selesai pada karakter drawing itu. Sebagaimana banyak seniman kini di berbagai belahan bumi, Eka dan Ari menyadari bahwa drawing bukanlah medium nista yang hanya diposisikan sebatas bagan; drawing adalah karya final.[3] Lain dengan Eka dan Ari, I Made Gunawan memilih rupa dekoratif sebagai bahasanya. Dalam sejarah Barat, rupa dekoratif pernah dinistakan sebagai bagian dari nafsu menghias. Tetapi Gunawan aganya sadar bahwa rupa dekoratif adalah bagian dari bahasa rupa lokal. Karenanya, sebagai penutur bahasa rupa lokal, ia tak acuh dengan pernyataan Barat itu, dan melaju saja dengan bahasa rupa dekoratif.
Dan ketiga, kecenderungan medium konvensional dengan muatan perkara alam. I Gusti Putu Muliana, I Ketut Teler, I Made Ardika, I Made Sudana, dan I Wayan Naya Swantha lebih memilih medium dan metode konvensional. Tetapi, ada semacam muatan yang sedang dibangun dalam karya mereka. Muliana dan Teler menyoal eksistensi manusia yang amat imperior dihadapan alam. Sudana dan Naya memuja alam yang superior itu. Sedangkan Ardika lebih kontemplatif terhadap permukaan alam. Persoalan alam bagi mereka agaknya adalah persoalan yang bermukim di wilayah perenungan.
***
Migrasi Kelompok Galang Kangin ke kebun belakang, barangkali baru sampai pada tataran rute. Kita hanya bisa berharap, mereka segera sampai pada tujuan.[]
[1] Pemikiran Marshall Shalins, dapat dilihat dalam Tony Rudyansjah. 2011. Alam, Manusia & yang Ilahi. h. 185. Rudyansjah mengutip Sharlins, 1976. Culture and Practical Reasons. Chicago: the University of Chicago Press, h. 46-47.
[2] Ibid, h.187.
[3] Bandingkan misalnya dengan sejumlah karya drawing dalam buku yang amat termashur karangan Emma Dexter, 2005. Vitamin D, New Perspectives in Drawing. New York: Phaidon Press Inc. Di Indonesia, secara khusus tahun 2009, Galeri Nasional Indonesia bekerjasama dengan Andi’s Gallery menyelenggarakan pameran Indonesia Contemporary Drawing dengan kurator Asmudjo J. Irianto dan Hardiman.
| Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us |