
Deskripsi Singkat
Representasi seni kontemporer Bali saat ini, tidak dapat dilepaskan begitu saja dari persoalan identitas yang di dalamnya terjadi dinamika dan usaha re-interpretasi secara menerus oleh para senimannya. Melalui projek pameran ini penulis mengajak para seniman Bali yang terlibat untuk menelisik kembali persoalan identitas tersebut, sebuah persoalan yang tetap penting dalam seni rupa Bali dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer yang ditandai dengan pluralitas, dengan multi narasi, bahkan narasi lokalitas atas reaksi matinya narasi besar yang absolut yang telah ”dibunuh” oleh kaum postrukturalis pada dekade yang telah lalu. Stigma identitas dalam seni rupa Bali dalam hemat penulis sesungguhnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam wacana seni rupa kontemporer. Upaya ini tidaklah dapat dilakukan hanya dalam tatanan wacana semata, karena wacana sendiri harus didukung oleh pergerakan karya-karya yang representatif. Sebuah gerakan yang tengah diupayakan oleh para seniman yang tergabung dalam tiga kelompok melalui karya-karya yang ditampilkan pada pameran ini.
Sebagai individu, para seniman yang terlibat dalam pameran ini berusaha secara terus-menerus menggali persoalan identitas melalui karya masing-masing, dimana egosentrisme mendasari motivasi artistik. Ketika mereka sepakat mewadahi diri dalam satu kelompok dan sepakat membuat pameran bersama, maka kemudian identitas personal dihadapkan pada representasi identitas kelompok dan lebih lanjut identitas seni rupa Bali yang memiliki relasi dengan identitas budaya. Dalam konteks pameran bersama seperti ini, masing-masing kelompok dan individu “mempertarungkan” identitas mereka melalui karya-karya yang ditampilkan. Para seniman sebagai entitas individu dan entitas kelompok melakukan refleksi untuk secara menerus memaknai identitas pada perkembangan seni rupa kontemporer. Fenomena yang ditampilkan oleh ketiga kelompok seni rupa dalam pameran ini, menunjukkan dinamika identitas seni rupa generasi akdemis tahun 1990-2000an merepresentasikan sebuah kritisisme terhadap identitas diri dan identitas kultural yang dilakoni baik secara sadar dan taksadar yang akhirnya menjadi potensi laten kemudian disubstitusi ke dalam egosintrisme individual. Tidak seperti generasi sebelumnya yang mengembangkan kreativitas rupa seni rupa dalam kerangka kontinyuitas budaya masa lalu, generasi seniman Bali berikutnya yang sebagian besar secara taksadar telah berada dalam paradoks antara kontinyuitas tradisi budaya masa lalu, dan perkembangan kebudayan masa kini yang didominasi oleh perkembangan teknologi dan keterbukaan dunia global. Mereka menjalani warisan kebudayaan tradisi dalam himpitan-himpitan berbagai kebudayaan lain dengan segala pengaruhnya, singkat kata mereka mengalami persoalan yang kompleks. Kompleksitas itu hadir dalam karya-karya mereka.
Representasi karya-akarya seniman Bali generasi tahun 2000-an pada pameran ini memperlihatkan eksplorasi elemen-elemen budaya hadir dalam dimensi yang lebih kritis, untuk mempersoalkan stigma identitas budaya dan menjajarkannya dengan permasalahan individu. Kritisisme cenderung tidak hadir dalam representasi yang banal, tapi dengan modus visual penjajaran objek (montase) serta modus invidualitas yang tersembunyi dan bersifat laten yang hidup dalam ketaksadaran. Modus visual dengan montase objek sesungguhnya bukan hanya fenomena visual semata, karena efek visual yang ditampilkan dengan cara mencolok perhatian menurut Georg Lucacs ”bisa menjadi senjata politik yang baik”. Dinamika pemaknaan identitas yang terepresentasi melalui pameran ini menunjukkan identitas sejatinya tidaklah statis-absolut, karena itu menggalian identitas seperti kata Jaques Lacan merupakan sebuah aktivitas identifikasi diri yang dilakukan dengan bercermin. Melalui proses bercermin itulah kita dapat memahami diri dan memahami diri-diri yang lain selain diri kita.
I WAYAN SERIYOGA PARTA
DISKUSI SENI RUPA
“EKSISTENSI DAN PERAN KELOMPOK PERUPA DALAM PERKEMBANGAN SENI RUPA BALI”
WAKTU DAN TEMPAT: TGL. 12 OKTOBER 2011, PUKUL: 15.00 WITA,
DI TANAH THO GALLERY UBUD
PEMBICARA: I WAYAN SERIYOGA PARTA, HARDIMAN, ARIF B. PRASETYO DAN I WAYAN SUNARTA “JENGKI”
| Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us |