• Home
  • Exhibitions
    • Bali Painting Exhibitions 2011
    • Bali Painting Exhibitions 2010
    • Bali Painting Exhibitions 2009
  • Artists
  • Art Gallery
  • Photos
  • Articles
  • Contact Us

Dinamika Representasi Identitas Dalam Seni Rupa Bali

In the Name of Identity

Dinamika Representasi Identitas Dalam Seni Rupa Bali

 

Kurator: I Wayan Seriyoga Parta*

 

Stigma identitas sangat lekat dalam seni rupa Bali, berbagai kilasan sejarah mencatat bahwa seni rupa Bali menunjukkan sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garis perkembangan tersendiri. Representasi identitas yang dimaksud, menunjukkan pertalian perkembangan rupa seni rupa dengan nilai-nilai budaya. Identitas itu tidaklah melekat dengan sendirinya tapi merupakan sebuah konstruksi, sehingga menatap identitas dalam seni rupa berarti mengkaji konstruksi nilai-nilai kebudayaan yang terepresentasi melalui konstruksi rupa. Serta mengkaji kerangka kreativitas seniman dan konstruksi visual di balik karyanya yang dijalani baik secara sadar (conscius) maupun tak-sadar (unconsciuos).

Proses konstruksi pada budaya Bali, dapat ditelisik dari pesentuhan kebudayaan Bali dengan kolonialisme diawal abad ke-20 membawa arus re-tradisionalisasi yang melibatkan campur tangan pihak kolonial (Belanda) dan penerimaan penguasa lokal (puri). Dalam seni rupa gejala ini dapat dilihat pada Pita Maha melalui wadah inilah nilai-nilai identitas—estetik seni lukis Bali dan kesadaran senimannya dibangun (dikonstruksi). Konstruksi tersebut bertujuan untuk menguatkan identitas kebudayaan Bali merupakan aset potensial dalam pembentukan industri pariwisata yang berbasis kebudayaan, dan konstruksi itu terbukti efektif bagi kolonial untuk merubah image mereka yang sarat dengan penindasan menjadi lebih santun dan berpihak pada kehidupan kebudayaan daerah koloni. Kesuksesan projek tersebut kemudian terus dilanjutkan pada masa pasca kolonial, dalam kesadaran negara Indonesia yang pada masa awal pembentukannya tengah berupaya merumuskan identitas kebudayaan nasional (masa Orde Lama). Berlanjut pada masa Orde Baru dengan merumuskan kebudayan nasional merupakan puncak-puncak dari kebudayaan daerah, dan terus belanjut hingga kini menjadikan Bali kerap dipakai sebagai rujukan untuk pengembangan pariwisata yang berbasis pada kebudayaan.

Mempersoalkan keterkaitan seni rupa dengan identitas budaya merupakan sebuah kajian yang tidak mudah, karena pada tataran konstruksi bentuk-rupa tanda-tanda budaya itu hadir dengan presentasi yang bermacam-macam. Pada satu sisi tanda-tanda itu akan tampak lebih kontret pada karya-karya seni rupa representasional (figuratif atau realis), dan menjadi bersifat tidak kontret pada karya nonrepresentasional (abstraksi dan simbolis). Sehingga kajian akan bersifat relasional, untuk menguraikan bentuk—rupa dan melihat relasinya dengan tanda-tanda budaya.

Kompleksitas pertama; ditemui pada karya-karya yang menyerap modernisasi melalui interaksi budaya dalam lingkup kolonialisme, seperti; Pita Maha dan perkembangan segaris generasi selanjutnya. Konstruksi visual karya-karya mereka didominasi oleh komposisi bentuk—rupa yang berasal dari tradisi seni lukis wayang Bali, yang kemudian berkembang secara anatomis mendekati bentuk realistik. Perkembangan tersebut terjadi melalui interaksi dengan bentuk-bentuk realis yang diperkenalkan seniman dari luar seperti Walter Spies dan Rodelf Bonnet dan seniman Barat lainnya. Perkembangan kebentukan yang menampilkan pertalian dengan seni rupa tradisi dan latar belakang budaya Bali menunjukkan representasi identitas seni rupa Bali. Satu hal yang dapat dicermati dalam hal ini adalah, tujuan penciptaan karya yang tidak sepenuhnya dimotivasi oleh pencapaian rupa, tapi ditujukan untuk menghadirkan narasi tentang nilai-nilai budaya. Perkembangan bentuk dalam lingkup bahasa rupa tradisi dapat ditengarai merupakan sebuah pilihan pragmatis bukan ideologis karena tujuannya tidak ditujukan pada eksplorasi bentuk, tapi merupakan sebentuk cara baru dalam mengkomunikasikan dan merepresentasikan nilai moral yang berpijak pada nilai-nilai luhur religi dalam kebudayaan Bali.

Identitas budaya yang tercermin melalui bahasa rupa tersebut didasari usaha untuk selalu mempertahankan kontinyuitas nilai-nilai dari masa lalu dalam berhadapan dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai itu bagi masyarakat pendukungnya adalah sebuah pijakan yang dapat memberikan kepastian jati diri, ketika berhadapan dengan entitas identitas yang lain. Identitas dalam hal ini memasuki wilayah politik identitas. Berkaitan dengan konteks seni rupa, identitas hadir melalui bahasa rupa yang berasal dari rupa tradisi seperti seni wayang, gambar rerajahan dan seni ukir relief yang merupakan bagian dari religi Hindu Bali, kontinyuitas menjadi sebuah cara untuk mempertahankan identitas budaya yang terepresentasi dalam perkembangan bahasa rupa. Dengan mempertahankan kontinyuitas sebuah kebudayaan dapat mengidentifikasi dan menyatakan jati diri dalam berhadapan dengan kebudayaan dan identitas lain dalam kancah komunikasi antar budaya.

Kompleksitas kedua; terjadi ketika konstruksi identitas seni rupa Bali memasuki perkembangan lebih lanjut pada generasi yang menyerap pengetahuan seni dari wilayah akademis, dengan kaidah-kaidah formal seni rupa modern Barat. Setelah menyerap wawasan seni rupa modern, mereka mengembangkan bahasa rupa “baru” yang berbeda dari pendahulunya, dengan meminjamnya dari bahasa rupa modern Barat. Generasi ini memakai bahasa rupa modern yang lebih menekankan eksplorasi dan penemuan bentuk—rupa, seperti; ekspresionisme dan abstraksi, pergerakan visual tersebut terwadahi dalam Sanggar Dewata Indonesia (1970-1990). Berhadapan dengan kondisi kebangsaan saat itu (Orde Baru) yang merumuskan identitas nasional merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah, menggiring eksplorasi rupa serapan karya generasi yang mendapat pendidikan di Yogyakarta kemudian kembali kepada kebudayaan asal mereka. Konstruksi rupa terwujud dengan memadukan kecenderungan abstraksi bentuk dari ikonisitas yang bersumber dari tradisi religi Hindu Bali, dengan berlandaskan pengolahan elemen-elemen artistik dan kaidah-kaidah estetik. Ikon-ikon itu, seperti; ekstraksi simbol-simbol ritual meliputi; ngaben, banten (sesajen), caru dan lainnya serta nilai-nilai simbolik yang terpresentasi pada warna tri datu antara lain; merah (dewa Brahma), putih (dewa Wisnu) dan Hitam (dewa Siwa/Iswara). Simbolisasi rwa bhineda (nilai baik—buruk) dalam bentuk tampak dara (tanda tambah +) dan komposisi bidang persegi dengan susunan warna hitam dan putih. Konstruksi visual ini dapat tercapai dengan cara membenamkan ideom rupa simbolik yang mengandung nilai-nilai budaya pada eksplorasi rupa yang mengedapankan abstraksi bentuk.

Pergerakan yang cukup massif tersebut didukung oleh stigma bahwa kebudayaan Bali yang berlandaskan religiositas Hindu telah dikenal mampu mempertahankan identitas budaya ketika berinteraksi dengan modernitas, menjadi motivasi kuat sehingga lahir menjadi sebuah gerakan estetis.

Gerakan ini kemudian melahirkan karya-karya dengan kecenderungan abstraksi, yang secara rupa menunjukkan pengolahan formalistik yang di dalamnya juga mengandung muatan isi digali dari nilai-nilai budaya Bali. Walaupun pada awal berkarya mereka berusaha membebaskan diri, untuk membiarkan tangan dengan bebas menggerakkan kuas dan palet, pada akhirnya mereka tidak pernah kuasa menghentikan eksplorasi rupa hanya pada nilai formal, karena pada akhirnya mereka merasa ada kekosongan. Karya-karya tersebut tidak bersifat nir-makna, mereka tidak mau berhenti pada presentasi nilai-nilai formal (garis, bidang, warna,tekstur) semata. Secara kosmologi, fenomena ini berkaitan dengan pemahaman bahwa ruang dan waktu memiliki dimensi makna dan filosofi sesuai dengan konteksnya, pemahaman inilah yang menjadikan para seniman abstraksi Bali tak kuasa untuk tidak memasukkan sebuah kontens yang berdimensi religi dan budaya dalam penghayatan penghayatan subyektif mereka. Secara kasat mata visualisasi karya-karya generasi abstraksi (non representasional) dalam fenomena estetik sepertinya memperlihatkan diskontinyuitas dengan bahasa rupa tradisi Bali, tapi dalam tataran isi dan ide pada kenyataannya tidaklah seperti itu.

Diskontinyuitas mendasari perkembangan seni rupa Barat berupa kritisisme, dengan pemahaman sebuah kemajuan akan dapat dicapai dengan meretas beban historis (masa lalu) membuat batas yang tegas dengan masa lalu, tradisi adalah lawan dari kemajuan, kreativitas adalah wilayah yang bebas dan ontonom. Demikianlah seni modern lahir dan berkembanglah isme-isme (gaya) dari impresionisme, kubisme, hingga berujung pada formalisme. Motivasi kelahiran isme-isme tersebut bersifat ideologis, dengan semangat kebaruan didasari kesadaran kritis melampui pencapaian dalam isme sebelumnya (dialektika), inilah semangat garis depan (avant-garde) yang mendasari perkembangan seni modern.

Kondisi berbeda ditunjukkan oleh perkembangan seni rupa modern—akademis dan hal itu terjadi karena, modernitas yang diserap oleh seni rupa Bali generasi akademis dan juga pada umumnya dalam seni rupa Indonesia menyerap gaya rupa modern hanya sebagai bahasa ungkap bukan sebagai isme (aliran ideologi yang didasari paradigma estetik) seperti di Barat. Persoalan estetika dalam seni rupa Indonesia tidak menyerap sepenuhnya konsep seni rupa modern, yang mana fenomena estetika kemudian bergerak dari persoalan keindahan transenden menuju keindahan karya seni dan berujung pada substitusi ekslporasi elemen mendasar dari seni sebagai fenomena estetik (formaslisme). Persoalan estetika dalam seni rupa modern di Indonesia justru tidak pernah sepenuhnya hanya berbicara dalam konteks fenomena estetika seni semata. Realitas inilah yang terjadi pada generasi akademis seni rupa modern Bali, mereka tidak pernah sepenuhnya menjelma menjadi manusia yang individual yang menyakini diri adalah pusat, justru sebaliknya, diliputi oleh kesadasan bahwa diri adalah bagian dari entitas yang lebih luas. Jadi identitas kultural kembali hadir dalam karya-karya generasi ini pada bentuk konstruksi yang baru dari perkembangan sebelumnya.

Representasi identitas yang terepresentasi selama beberapa periode perkembangan, telah memunculkan stigma bahwa seni rupa Bali memiliki keidentikkan dari wilayah lain di Indonesia. Inilah yang menjadikan seni rupa Bali seperti berjalan pada jalurnya sendiri dan lekat dengan wacana identitas yang terepresentasi pada karya-karya seniman Bali dari waktu ke waktu. Kekusyukan seni rupa Bali pada dirinya sendiri berimplikasi pada dua hal; disatu sisi menjadi potensi, hal ini menjadi pembeda seni rupa Bali dengan seni rupa lainnya karena hanya dalam seni rupa Bali bisa ditelusuri jejak-jejak perkembangan yang bisa dibaca secara runut. Namun pada bilah sisi yang lain dengan kondisi tersebut seni rupa Bali harus menerima dirinya secara terus menerus dicitrakan terinklusi pada wilayah yang spesifik dan kerap dibedakan dalam arus perkembangan seni rupa Indonesia. Dengan kata lain pembedaan tersebut menjadikan seni rupa Bali berada dalam posisi the other dari perkembangan seni rupa Indonesia. Inilah dualitas yang harus dijalani dari implikasi citra-identitas seni rupa Bali hingga saat ini.

Dalam perkembangan seni rupa kontemporer dunia sendiri wacana identitas menjadi konsentrasi banyak seniman terutama seniman-seniman dari di luar Barat, antara lain; identitas dalam kerangka wacana poskolonial yang direpresentasikan seniman-seniman yang berasal dari negera-negara yang mengalami kolonialisme Barat. Maupun identitas dalam kerangka feminisme yang merupakan gerakan seniman perempuan untuk merepresentasikan perjuangan dan eksistensi mereka pada medan seni rupa. Gerakan feminisme lebih memunculkan identitas personal mereka sebagai perempuan yang ternisbikan dan selalu menjadi objek dalam sejarah perkembangan seni rupa. Nilai identitas itu menjadi kekuatan mereka untuk mengedor medan seni rupa dunia.

Berdasarkan kerangka kurasi ini penulis mengajak para seniman Bali yang terlibat untuk menelisik kembali persoalan identitas tersebut, sebuah persoalan yang tetap penting dalam seni rupa Bali dalam arus perkembangan seni rupa kontemporer yang ditandai dengan pluralitas, dengan multi narasi, bahkan narasi lokalitas atas reaksi matinya narasi besar yang absolut yang telah ”dibunuh” oleh kaum postrukturalis pada dekade yang telah lalu. Stigma identitas dalam seni rupa Bali yang berimplikasi pada dua hal tadi, dalam hemat penulis sesungguhnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam wacana seni rupa kontemporer.

Representasi seni kontemporer Bali saat ini, tidak dapat dilepaskan begitu saja dari persoalan identitas yang di dalamnya terjadi dinamika dan usaha re-interpretasi secara menerus oleh para senimannya. Berada dalam keterkaitan erat sebagai bagian dari entitas kolektivitas kebudayaan Bali, pada kenyataannya menjadi semacam paradoks pada wilayah kreativitas seni rupa yang nantinya terlihat dalam perkembangan generasi selanjutnya. Tidak adanya sikap tegas dan jarak estetis antara kemerdekaan berekspresi secara individu dengan budaya komunal dan kebersamaan yang diikat oleh aturan bersifat etik (order). Demi menjaga kondisi order itu, mereka tanpa sadar merepresi kemerdekaan individu hingga menjadi terpendam ke wilayah tak sadar, yang kemudian muncul sebagai egosentrisme individu pada wilayah privat yaitu wilayah penciptaan karya. Egosentrisme kemudian menjadi potensi desktruksif ketika mereka berada pada wilayah berkesenian secara komunal, dengan tidak membuat ikatan yang menekan potensi individu. Kondisi ini terjadi pada kelompok Hitam Putih (H.P) yang memilih untuk tidak membingkai kreativitas kekaryaan mereka pada satu tema atau konsep yang diusung bersama, mereka memilih mengedepankan pencarian identitas para anggotanya dengan temanya masing-masing. Wayan Sunarta dalam tulisannya mengenai kelompok Hitam Putih menegaskan bahwa; “semboyan Hitam Putih adalah “Art for Happiness”, seni untuk kebahagiaan. Mereka berharap dengan berkesenian mampu memberi kebahagiaan bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain”. Kebebasan individu yang mereka usung dalam kelompok bisa ditengarai sebagai sebuah menyikapan diri dari tekanan budaya komunal yang melingkupi diri mereka.

Inilah potensi laten individualitas yang ada pada generasi muda seni rupa Bali, dengan kata lain dibalik visi yang bercair yang mereka usung tersirat sebuah keinginan untuk membebaskan diri dari ikatan komunal meskipun H.P berada dalam kebersamaan kelompok. Kebebasan individu dalam kelompok kecil (kelompok seprofesi yang sama yaitu seni rupa), dalam konteks yang lebih luas adalah sebuah keinginan untuk membebaskan diri dari beban dan ikatan komunal dalam lingkup kebudayaan Bali. Pada kenyataannya hal itu merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi mereka ketika berhadapan langsung tradisi budaya komunal, dan ini tercermin dalam karya-karya kelompok H.P yang secara tematis mengetengahkan berbagai kecenderungan yang sebagian besar diliputi oleh sindrom pencarian identitas diri dan persoalan diri dalam keterkaitannya dengan stigma identitas budaya Bali.

Refleksi terhadap identitas kultural, dapat dilihat dalam karya Alit Suaja yang berjudul Target #2 dengan menampilkan seorang anak berpakaian adat Bali, kian kamen merah, berudeng songket dengan kulit berwarna kebiruan sedang membidik dengan pistol mainannya dan memakai sepatu sporti. Figur anak ini dilatarbelakangi kain tenun songket Bali, figur perempuan dengan tata rias Bali dan Nampak seorang kakek tengah bertengadah di sisi kiri belakang. Penjajaran beberapa objek visual yang semuanya berkaitan dengan ideom kultural Bali dalam karya ini menyisipkan sebuah narasi yang tidak dengan serta merta dapat ditarik pemaknaannya secara langsung. Figur anak kecil dengan kulit berwarna biru secara komposisional jelas diniatkan untuk menjadi fokus persoalan pada karya Alit Suaja, warna kulit yang tak lazim biru bisa dimaknai sebagai telah terkontaminasi oleh figmen atau zat lain. Zat yang tidak natural, mengandung muatan kimiawi dan mungkin juga efek teknologi yang memang sangat lekat dengan anak-anak generasi sekarang yang menikmati berbagai kemajuan teknologi yang semakin canggih saja. Setidaknya makna itu yang terimpresi dari representasi anak kecil tersebut, dan oleh Alit disejajarkan dengan ideom tradisi budaya Bali. Melalui penjajaran tersebut Alit menyisipkan perihal kompleksitas identitas yang direpresentasikan generasi muda Bali, perkembangan hidup mereka tidak saja dihadapkan pada berbagai citraan visual dari masa kini dan masa lalu tapi juga nilai-nilainya.

Representasi dengan keragaman konten yang hadir melalui karya-karya H.P memperlihatkan persoalan identitas dalam seni rupa Bali memperlihatkan persoalan yang kompleks berdasarkan penghayatan dan egosintrisme masing-masing secara personal.

Budaya komunal yang menjelma menjadi identitas budaya, dalam interaksi sosialnya menekan kemerdekaan individu untuk mengeksiskan diri. Hidup dalam budaya komunal seniman muda Bali berada dalam ketengangan paradoksal antara individualitas dan komunalitas, di satu sisi mereka dihadapkan pada keterikatan dengan nilai-nilai etik yang diusung secara bersama dan sisi lain kemerdekaan kreativitas sebagai insan individu yang memiliki kemerdekaan berekspresi. Tapi bagi kelompok 10 Fine Art (10 F.A) komunalitas yang mereka jalani dalam kreativitas bersama, dimaknai sebagai kekuatan subversif menjadi potensi untuk mengkritisi posisi mereka sebagai individu dan bagian dari kehidupan komunal dalam entitas kebudayaan Bali. Melalui kesadaran tersebut mereka membuat sebuah rumusan konsep bersama, yang kemudian dituangkan dalam kecenderungan personal masing-masing anggotanya. Komunalitas sebagai potensi direprentasikan dalam karya dengan mengambil ikon The Thinker, pemilihan satu bentuk representasi untuk diusung secara bersama dimaksudkan untuk mengedepankan representasi kebersamaan kelompok. The Thinker patung karya Rodin dipilih sebagai ikon yang sudah dikenal luas dan mendunia, yang kemudian disejajarkan dengan potret diri yang juga menirukan pose the Thinker dengan gaya dan atribut masing-masing mereka.

The Thinker dalam hal ini merupakan sebuah teks terbuka dipakai sebagai sandaran untuk mengetengahkan berbagai lapis persoalan identitas yang direpresentasikan melalui potret diri. Melalui berbagai macam atribut yang menandai tema pribadi masing-masing anggota, dengan berpose ala Thinker mereka memainkan berbagai ironi tentang identitas dan kompleksitas identitas dalam konstelasi kebudayaan global. Identitas bagi mereka sungguh tidak mudah untuk dirumuskan secara utuh, salah satu kasus dapat lihat pada karya I Wayan Paramartha yang menampilkan siluet the Thinker dengan lelehan cat yang meluber dan tekstur putih sementara ia berpose dengan memakai setengah busana tari Bali lengkap dengan riasan gelung di kelapa, dan memakai celana jins dan bersepatu. Representasi yang dihadirkan Paramartha menunjukkan berlapisnya persoalan identitas yang tengah dia hadapi, pakaian penari Bali salah satu sebagai penanda identitas budaya Bali dijajarkan dengan celana jins kasual lekat dengan kemodern. Karya Paramartha merepresentasikan keambiguan identitas yang tidak dapat dilihat dalam satu perspektif saja, karena mengandung lapis-lapis yang bersifat multi perspektif. Kelompok 10 memakai potensi subversif dalam budaya komunal Bali sebagai kekuatan untuk mengkritisi persoalan identitas budaya yang sebelumnya menjadi stigma seni rupa Bali dengan cara membenturkannya dengan persoalan identitas personal.

Jika kedua kelompok sebelumnya mengetengahkan persoalan identitas dalam wilayah paradoksal antara individualitas dalam komunialitas dan potensi subversif dalam komunalitas sebagai sebuah media “perlawanan” budaya komunal. Maka Kelompok Galang Kangin (G.K) dengan karya yang lebih menonjolkan pada eksplorasi tiga dimensi yaitu dalam bentuk instalasi, tengah melakukan refleksi bersifat ke dalam tubuh kelompok. Refleksi atas citra dari kelompok G.K yang menggusung estetika formalis. Citra ini dengan sadar dideklamasikan melalui manifesto G.K tahun 2001 silam, dengan lima poin yang mengedapankan ideologi estetika formalis, yang tertuang dalam kecenderungan abstraksi yang mendominasi karya-karya para anggotanya. Formalisme sendiri merupakan bagian dari paradigma estetik seni rupa modern, modernisme meletakkan kesadaran individu yang otonom yang bergerak ke depan melampui kedasaran masyarakat umum, seniman modern meletakkan identitas sebagai subjek berbeda dari masyarakat yang memiliki posisi hanya sebagai objek.

Langkah kritisime terhadap stigma identitas kelompok dilakukan dengan proyeksi sentripugal, melihat keluar yaitu realitas sosial dan budaya yang melingkupi kreativitas berkarya, dengan mengarahkan kreativitas karya untuk mengangkat nilai ekstrinksik atau kontekstual dengan tetap didasari oleh kesadaran formal. Kelompok G.K melakukan refleksi kritis perihal identitas diri dan kelompok yang tertuang dalam karya mereka. Melalui kritisme pada konstruksi rupa yang terfokus pada nilai formalisme, G.K telah meletakkan diri sebagai subjek yang memiliki otoritas dengan berjarak pada fenomena sosial. Langkah kritisime terhadap citra identitas kelompok dan visi ideologis membuat kesadaran baru, jarak estetik yang dilakukan dalam proses kreatitivas dalam koridor formalisme menjebak kreativitas kekaryaan hanya menjadi fenomena estetis yang bersifat material. G.K sadar formalisme bukan tujuan pencapaian kreativitas karya-karya mereka, sebagai entitas individu yang memiliki kebebasan berekspresi seniman merupakan bagian yang tak terpisahkan dari entitas sosial.

Kesadaran ini membuat mereka mulai memproyeksikan diri untuk melihat keluar yaitu realitas sosial dan budaya yang melingkupi kreativitas mereka, mengarahkan kreativitas karya tidak hanya bergulat pada formalisme mengingat karya seni rupa juga memiliki potensi untuk merepresentasikan nilai ekstrinsik, nilai yang bersifat kontekstual. Salah satunya dapat dilihat pada karya I Wayan Setem yang agak mengejutkan tampil dengan instalasi ratusa botol coca cola dipadankan dengan patung kecil Singa bersayap yang khas dalam langgam mitologi Hindu Bali. Penjajaran dua objek yang berasal dari dua kebudayaan yang berbeda satu tradisi dan satunya modern jelas menunjukkan bahwa ada persoalan yang ingin ditampilkan Setem melalui karyanya, yaitu perihal tradisi dan modernisasi tertutama kapitalisme. Kesadaran ini membawa G.K tidak hanya berada pada identitas subjek otonom dan berdiri sendiri, tapi sebagai subjek yang memiliki keterkaitan dan keterikatan dengan subjek-subjek serta identitas-identitas lainnya dan yang pada suatu waktu juga berada pada posisi objek. Kesadaran kritis ini mendasari perkembangan karya-karya eksploratif berdimensi nilai kontekstual yang lepas dari stigma abstraksi-formalistis kelompok G.K, direpresentasikan oleh beberapa karya anggotanya.

Sebagai individu, para seniman yang terlibat dalam pameran ini tentu berusaha secara terus-menerus menggali persoalan identitas melalui karya masing-masing, dimana egosentrisme mendasari motivasi artistik. Ketika mereka sepakat mewadahi diri dalam satu kelompok dan sepakat membuat pameran bersama, maka kemudian identitas personal dihadapkan pada representasi identitas kelompok dan lebih lanjut identitas seni rupa Bali yang memiliki relasi dengan identitas budaya. Dalam konteks pameran bersama seperti ini, masing-masing kelompok dan individu “mempertarungkan” identitas mereka melalui karya-karya yang ditampilkan. Para seniman sebagai entitas individu dan entitas kelompok melakukan refleksi untuk secara menerus memaknai identitas pada perkembangan seni rupa kontemporer. Fenomena yang ditampilkan oleh ketiga kelompok seni rupa dalam pameran ini, menunjukkan dinamika identitas seni rupa generasi akdemis tahun 1990-2000an merepresentasikan kompleksitas yang ketiga, berupa sebuah kritisisme terhadap identitas diri dan identitas kultural yang dilakoni baik secara sadar dan taksadar yang akhirnya menjadi potensi laten kemudian disubstitusi ke dalam egosintrisme individual. Tidak seperti generasi sebelumnya yang mengembangkan kreativitas rupa seni rupa dalam kerangka kontinyuitas budaya masa lalu, generasi seniman Bali berikutnya yang sebagian besar berada pada kondisi taksadar telah berada dalam paradoks antara kontinyuitas tradisi budaya masa lalu, perkembangan kebudayan masa kini yang didominasi oleh perkembangan teknologi dan keterbukaan dunia global. Mereka menjalani warisan kebudayaan tradisi dalam himpitan-himpitan berbagai kebudayaan lain dengan segala pengaruhnya, singkat kata mereka mengalami persoalan yang kompleks.

Mempersoalkan identitas dalam wacana kontemporer pada kajian ini, tidak dimaksudkan dalam kerangka untuk memetakan subyek dalam satu kesatuan yang utuh yang terpisah dari lainnya sehingga bersifat spesifik dan otentik. Akan tetapi diletakkan dalam kerangka mengkaji kontrsuksi identitas dan elemen-elemen yang membentuknya. Representasi karya-akarya seniman Bali generasi tahun 2000-an pada pameran ini memperlihatkan eksplorasi elemen-elemen budaya hadir dalam dimensi yang lebih kritis, untuk mempersoalkan stigma identitas budaya dan menjajarkannya dengan permasalahan individu. Kritisisme cenderung tidak hadir dalam representasi yang banal, tapi dengan modus visual penjajaran objek (montase) serta modus invidualitas yang tersembunyi dan bersifat laten yang hidup dalam ketaksadaran. Modus visual dengan montase objek sesungguhnya bukan hanya fenomena visual semata, karena efek visual yang ditampilkan dengan cara mencolok perhatian menurut Georg Lucacs ”bisa menjadi senjata politik yang baik”.

Dinamika pemaknaan identitas yang terepresentasi melalui pameran ini menunjukkan identitas sejatinya tidaklah statis-absolut, karena itu menggalian identitas seperti kata Jaques Lacan merupakan sebuah aktivitas identifikasi diri yang dilakukan dengan bercermin. Melalui proses bercermin itulah kita dapat memahami diri dan memahami diri-diri yang lain selain diri kita.

Batubulan-Yogyakarta, September 2011

*Penulis adalah staf pengajar Seni Rupa di UNG, kini sedang menempuh program Doktoral di Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Bali Painting and Gallery - Tanah Tho Gallery

Painting Inquiry


No Painting currently added.

Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us