Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa berkat rahmatnyalah pameran ini dapat terselenggara sesuai dengan waktu yang direncanakan. Sebagai ruang yang belum lama berdiri Tanah Tho Gallery berusaha untuk mewadahi kegelisahan kreatif para seniman muda Bali khususnya untuk mendukung eksistensinya dalam medan seni rupa kontemporer. Dalam kesempatan kali ini dengan bangga kami persembahkan pameran yang melibatkan tiga kelompok seniman muda Bali yang telah menunjukan eksistensinya sejak tahun 1990-an dalam sebuah perhelatan bersama yang bertajuk "In The Name of Identiry". Mereka antara lain; Kelompok Galang Kangin, Kelompok 10 Fine Art dan Kelompok Hitam Putih, dengan penuh semangat mereka mendedikasikan kreatifitasnya dalam wujud karya-karya eksploratif yang ditampilkan dalam pameran ini.
Melalui kerangka identitas yang diusung dalam perhelatan bersama ini, para seniman mempertarungkan identitas personal dan identitas kelompok yang terepresentasi dalam karya-karya. Perhelatan ini melibatkan tiga penulis Bali antara lain : Hardiman, Arif B. Prasetyo dan I Wayan Sunarta "Jengki" yang menjabarkan pencapaian para seniman dan kelompoknya, capaian tersebut semakin bermakna karena dikaitkan dengan konteks perkembangan senirupa Bali oleh I Wayan Seriyoga Parta sebagai kurator pameran.
Pada kesempatan baik ini kami atas nama Galeri Tanah Tho ingin menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ketiga kelompok dan seluruh anggotanya yang telah menampilkan karya-karya berkualitas, untuk ketiga penulis yang telah memberikan makna pada capaian karya para seniman. Untuk keluarga besar yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materi dan para sponsor. Kepada Bapak Hauw Ming yang telah bersedia meluangkan waktunya yang padat untuk mengapresiasi dan membuka pameran ini, serta kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Kami harapkan capaian karya dan wacana yang dihadirkan oleh pameran ini dapat memberikan kontribusi yang positif dalam perkembangan senirupa kontemporer Bali.
Bravo Seni Rupa Bali ...
Ubud, September 2011
Dewa Gede Ardhana
Kata Sambutan
Om Swastiastu
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih telah diberikan kesempatan oleh Kelompok Galang Kangin, Kelompok Hitam Putih, Kelompok Ten Fine Art dan juga Tanah Tho Gallery Ubud untuk membuka acara pameran bersama dengan judul In The Name of Identity, walau secara pribadi saya belum mengenal semua teman-teman dari ketiga kelompok dan Tanah Tho Gallery Ubud, tapi saya dapat menangkap semangat kebersamaan dalam melakukan pameran kali ini. Yang pasti dengan mengadakan pameran bersama tiga kelompok secara tidak langsung membuka komunikasi bersama bagi mereka, semangat berbagi pengalaman seperti ini harusnya kita sambut dengan gembira.
Patut disyukuri rasa perhelatan ini dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat seni Bali sendiri mulai dari seniman, kurator dan juga gallery, hal ini juga bukti kalau pameran In The Name of Identity konsisten tidak ingin kehilangan identitas Bali secara nyata.
Semoga pameran kali ini bukan sekedar wacana, tapi ada kelanjutannya, karena kesenian Bali seperti yang sudah kita ketahui bersama sangat beragam dan sudah merupakan akar dari berkesenian bangsa Indonesia sejak dahulu. Dengan segala kerendahan hati saya ucapkan Selamat dan Sukses bagi ketiga kelompok dan juga Tanah Tho Gallery Ubud, semoga ini bisa merupakan langkah awal bagi semua untuk melanjutkan ke pameran dimasa mendatang.
Om Shanti Shanti Shanti Om
Hauw Ming ( Ketua Asosiasi Pencinta Seni Indonesia )
Dinamika Representasi Identitas Dalam Seni Rupa Bali
In the Name of Identity
Dinamika Representasi Identitas Dalam Seni Rupa Bali
Kurator:I Wayan Seriyoga Parta*
Stigma identitas sangat lekat dalam seni rupa Bali, berbagai kilasan sejarah mencatat bahwa seni rupa Bali menunjukkan sebuah perkembangan seni rupa yang berjalan dalam garis perkembangan tersendiri. Representasi identitas yang dimaksud, menunjukkan pertalian perkembangan rupa seni rupa dengan nilai-nilai budaya. Identitas itu tidaklah melekat dengan sendirinya tapi merupakan sebuah konstruksi, sehingga menatap identitas dalam seni rupa berarti mengkaji konstruksi nilai-nilai kebudayaan yang terepresentasi melalui konstruksi rupa. Serta mengkaji kerangka kreativitas seniman dan konstruksi visual di balik karyanya yang dijalani baik secara sadar (conscius) maupun tak-sadar (unconsciuos).
Hitam Putih adalah sebuah kelompok seni rupa yang didirikan pada tanggal 18 Agustus 1999 oleh sejumlah mahasiswa STSI (kini ISI) Denpasar Angkatan 1996. Anggota Hitam Putih terdiri dari sebelas perupa, yakni: Anthok Sudarwanto, Ketut ‘Lekung’ Sugantika, Ni Nyoman Sani, I Gusti Ngurah Putu Buda, I Nyoman Bangbang Ariana, Anak Agung Gede Darmayuda, Rachmat Saleh, I Made Alit Suaja, I Made Sudiarta, I Wayan Susana, I Gede Pande Paramartha.
Menilik asal-usul anggotanya, kelompok seni rupa 10 Fine Art dapat dipandang mengusung pola lokalitas. Para perupa anggota kelompok ini berbasis di, dan memiliki hubungan lahir-batin dengan, kawasan Sanur-Denpasar. Sembilan anggotanya adalah orang Bali (I Made Budi Adnyana, I Made Dolar Astawa, I Ketut Teja Astawa, I Wayan “Apel” Hendrawan, I Wayan Muliastra, A.A. Ngurah Paramartha, I Wayan Paramartha, Ida Bagus Putu Purwa, I Made “Romi” Sukadana), ditambah satu orang beretnis non-Bali (Vinsensius Dedy Reru).
The social structure and the state are continually evolvingout of the life-process of definite individuals, but individuals, not as they may appear in their own or other people’s imagination, but as they really are--Marshal Shalins--[1]