• Home
  • Exhibitions
    • Bali Painting Exhibitions 2011
    • Bali Painting Exhibitions 2010
    • Bali Painting Exhibitions 2009
  • Artists
  • Art Gallery
  • Photos
  • Articles
  • Contact Us

Kamu Pegang Mana ? oleh A.Anzieb

Histeria Orang-Orang ‘Penggila Bola’ Piala Dunia 

Pada 15 Mei 2004, sidang  Executive Committe FIFA di Zurizh, Swiss memilih dan kemudian menetapkan Afrika Selatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia 2010 melalui voting. Keputusan FIFA menunjuk Afrika Selatan sebagai tuan rumah dalam pesta sepak bola paling akbar di dunia ini memang dianggap aneh oleh banyak pihak, pasalnya negara dengan penduduk 44 juta jiwa ini bukan sebagai penggila bola. Orang Afrika Selatan lebih senang bermain rugby dan kriket ketimbang sepak bola. Namun, presiden Afrika Selatan yang saat itu Thabo Mbeki mau tidak mau harus meyakinkan ke banyak pihak bahwa Afrika Selatan mampu menyelenggarakan pesta akbar ini. Salah satu upaya untuk meyakinannya itu disampaikan dalam acara “Afrika Memanggil” yang juga dihadiri Sekretaris Jenderal PBB dan presiden FIFA Sepp Blatter. Dalam pernyataannya Mbeki menyatakan: “Sepak bola adalah harapan, harapan untuk dunia dan masa depan yang lebih baik. Kami datang dari tempat yang tidak hanya menjadikan sepak bola sebagai permainan, tetapi juga hasrat hidup. Afrika sudah siap, saatnya Afrika telah tiba, Afrika memanggil. Datanglah ke Afrika 2010”. 

Pesta olah raga berskala empat tahunan yang disangsikan banyak pihak dan ditunggu-tunggu oleh jutaan orang di seluruh dunia itu pun telah tiba. Sebagai tuan rumah, Afrika Selatan menampilkan slogan resminya “Ke Nako—Celebrate Africa’s Humanity”. Dan, Afrika Selatan secara istimewa juga menggunakan maskot latar belakang sejarahnya, yaitu Zakumi si macan tutul yang lahir pada 16 Juni 1994 yang merupakan tahun ketika warga negara Afrika Selatan terbebaskan dari segala ras, baik kulit putih maupun kulit hitam, memberikan suara mereka untuk pertama kalinya dalam pemilu demokratis pemerintahan Post-Apartheid. Maka, Zakumi merupakan duta besar dari seluruh harapan yang ada, mimpi, bahkan aspirasi seluruh rakyat Afrika Selatan. Zakumi dengan rambut gimbal berwarna hijau, memiliki senyum yang lebar, penuh semangat, vitalitas, senang bersosialisasi, percaya diri, ambisius, dan tentunya menyukai sepak bola.

Kini Piala Dunia 2010 benar-benar telah digelar, secara resmi sudah dibuka. Presiden Afrika Selatan saat ini. Jacob Zuma memperoleh penghormatan untuk membuka Piala Dunia yang berlangsung 11 Juni - 11 Juli 2010. Dalam pidatonya, sebagai Presiden Afrika Selatan Zuma mengatakan “Waktu untuk Afrika telah tiba. Saya bangga dan tersanjung membuka Piala Dunia ini”. Dengan penuh semarak acara pembukaan ini dimeriahkan oleh macam tari-tarian sambil mengibarkan warna-warni kain batik dengan diiringi gebukan drum, nyanyian-nyanyian khas Afrika, hingga atraksi Kumbang raksasa yang menggiring bola Piala Dunia di tengah lapangan atau yang disebut Jabulani itu langsung disambut histeris oleh puluhan ribu penonton yang memadati Stadiun Soccer City.

Sepak Bola, olah raga ini telah menemukan kepopulerannya di seluruh dunia dari berbagai lapisan masyarakat, ras, agama, gender, dan sebagainya. Tentu semua orang dari berbagai lapisan itu sudah sangat familiar dengan olah raga sepak bola. Dari mulai anak-anak, tua/muda, miskin/kaya, laki-laki/perempuan, tidak ada yang tidak pernah tahu tentang olah raga ini. Niscaya, sepak bola tak lagi hanya sekedar permainan yang mempertaruhkan menang dan kalah, atau bagi suporternya tak hanya sekedar tontonan yang menghibur, melainkan sudah menjadi gaya hidup dari berbagai kelas dimasyarakat dunia. Dari kompetisi Liga di masing-masing negara, antar Club/Copa di setiap benua (Piala Copa Eropa, Asia, Afrika, Amerika), antar negara di di setiap benua (Piala Eropa, Asia, Afrika, Amerika). Terutama Piala Dunia, kalau kita tidak mengikuti jalannya kompetisi sepak bola yang melibatkan seluruh negara di dunia ini barangkali akan ditengarai sebagai orang yang “tak berbudaya”, tidak gaul, kampungan, ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Pasalnya, sepak bola sudah menjadi bagian dari pop culture (budaya pop) karena telah menjadi mesin-mesin kebudayaan massa. Selain itu sepak bola juga sudah menjadi bagian dari kekuasaan politik dan ekonomi, bahkan menjadi alat globalisasi nilai-nilai budaya kapitalisme.   

Tulisan ini untuk mengantarkan gagasan pameran yang bertajuk “Corner Kick/ Tendangan Sudut” dari sepuluh perupa; I Made Wiradana, I Made Arya Dwita (Dedok), I Wayan Danu, Ngurah Paramartha, Wayan Sadu, I Made Susila (Kaek), I Made Bakti Wiyasa, Teja Astawa, I Gede Surya Darma, dan Pande Nyoman Alit Wijayasuta di Tanah Tho Gallery, Pengosekan, Ubud, Bali tentang “demam” Piala Dunia. Perupa-perupa di atas mencoba merepresentasikan momentum Piala Dunia yang saat ini sedang berlangsung walau hanya dari sebuah” tendangan sudut ”. Karena bagaimanapun sebuah tendangan sudut bisa menghasilkan sebuah gol. Gol yang indah dan penuh makna. Ya, beberapa dari karya mereka secara seksama menyoroti konteks budaya yang mengitari di masyarakat yang tengah merayakannya. Merayakan budaya bola. Dan barang tentu akan banyak makna yang dapat kita simak dalam karya-karya mereka sebagaimana misteri-misteri dan tragedi itu terjadi di tengah lapangan sepanjang 2 x 45 menit.

Sepak bola Piala Dunia punya kekuatan yang luar biasa, demikian seperti yang diungkapan I Made Wiradana. Ia mencermati ajang Piala Dunia ini penuh dengan makna dan misteri sehingga membuat orang banyak yang melupakan segala hal demi bola. Memang orang bisa memprediksi dari suatu pertandingan sepak bola antara siapa berhadapan dengan siapa berdasarkan materi-materi yang dimilikinya; pemainnya, strategi permainannya, skill individunya, pelatih, sejarah, prestasi, dan lain sebagainya, akan tetapi orang tak bisa menduga dengan kejutan maupun tragedi yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Siapa yang pernah menyangka Diego Maradona memasukkan bola ke gawang Inggris menggunakan tangannya?

Dunia masih sulit melupakan tragedi Piala Dunia Sepak Bola 1986 atas terciptanya gol melalui tangan kanan Maradona dalam pertandingan perempat final melawan Inggris di Stadiun Asteca, Mexiko. Rupanya wasit punya keputusan lain, umpan bola lambung dari Jorge Valdano yang disambut dengan tangan Maradona dan masuk ke gawang Inggris yang dijaga oleh kiper Peter Shilton itu dinyatakan syah sebagai gol kemenangan buat Argentina. Peristiwa serupa juga terjadi dalam babak kualifikasi piala dunia 2010 beberapa bulan lalu ketika Perancis berhadapan dengan Irlandia. Ketika itu tangan kapten kesebelasan Thierry Henry mengontrol bola menggunakan tangannya, lantas bola diumpankan ke William Gallas, dan dengan mudah Gallas menjebloskan bola ke gawang Irlandia. Gol ini lah yang kemudian mengantarkan perancis lolos ke Afrika Selatan. Malahan, misteri atau kejutan-kejutan semacam itu baru saja terjadi dalam pertandingan pembuka Piala Dunia 2010 ketika tuan rumah Afrika Selatan berhadapan dengan Mexiko. Sebuah tendangan pojok yang tepat mengarah ke kaki Carlos Vela dan bola langsung dilesakkan ke gawang Afrika Selatan. Rupanya wasit menganulirnya setelah hakim garis mengangkat bendera sebagai tanda offside. Padahal ada satu pemain Afrika Selatan, Steven Pienaar yang bediri tepat di garis gawang, dan nampaknya hakim garis tidak melihatnya. Mau protes sama siapa?

Ya, selamat datang Piala Dunia Afrika Selatan! Jutaan orang dari seluruh dunia telah menyesaki stadiun-stadiun di Afrika Selatan yang dijadikan tempat laga untuk memberi dukungan kepada tim kesayangannya. Jutaan orang di seluruh dunia pun telah menyaksikan setiap pertandingan secara langsung melalui layar televisi. Bagi Teja Astawa, perhelatan itulah yang secara sengaja dinanti-nanti orang. Jutaan orang terkena demamnya, seakan-akan tersulap oleh suasana yang demikian riuhnya. Kenapa hal itu bisa terjadi? I Made Bakti Wiyasa berinterpretasi bahwa sepak bola udah seperti agama. Dalam kehidupan modern, Piala Dunia disinyalir telah menjadi ajang kompetesi yang berfungsi untuk aktualisasi diri dan sebuah bangsa-bangsa di dunia — sepak bola sebagai “gaya hidup”. Itu lah representasi penting yang dapat kita simak dari lukisan I Made Bakti Wiyasa.  

“Kamu pegang mana, Brasil, Italia, Jerman, Argentina, atau…? Bagi orang yang negaranya ikut dalam Piala Dunia ini hampir dipastikan tak merasa perlu dengan pertanyaan di atas. Otomatis mereka akan menjagokan tim negaranya. Lain halnya dengan ‘kita’ karena tim Indonesia bukan termasuk salahsatu dari 32 kesebelasan yang sedang berebut kemenangan di Afrika Selatan. Kendati demikian, rupanya kita masih tidak bisa terhindarkan oleh pertanyaan di atas karena ada semacam “keharusan” untuk membela dari salahsatu tim kesebelasan yang sedang berlaga. Entah ditanya oleh orang lain atau berbalik bertanya pada mereka yang suka dengan bola maupun yang sama sekali tak peduli, toh tetap saja kita harus memiliki jago, membela, mendukung, dan berteriak untuk mereka agar menjadi juara. “Karena tim yang kita pegang beda, kamu adalah lawanku”. “Aku pegang tim yang benderanya terpasang distatus BlackBerry-ku aja”.  “Tim ini kupegang karena mereka punya sejarah di Piala Dunia, prestasi, skill pemain dan permainannya bagus”, begitulah sekilas obrolan singkat dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang membela tim favoritnya. Sebuah dukungan memang bisa ditentukan oleh faktor kebintangan sang pemain, ada yang berdasarkan kecakapan tampangnya atau melalui permainannya yang menawan. 

Ya, disini kita telah menjadi subyek “Piala Dunia Sepak Bola”. Kita dan mereka semua menjadi sasaran agar mengidentifikasi diri ke dalam “tim-tim” itu sebagaimana saya mengidentifikasikan diri ke dalam tim Brazil yang selalu menyuguhkan permainan indah. Oleh sebab itu, dalam intensitas tertentu kita rela begadang hingga pagi hari untuk melihat kesebelasan kesayangan memasukkan bola ke gawang lawan. Mengikuti ritual-ritual yang disajikan, nonton bareng keluarga di rumah, di pos ronda, nonton bersama kekasih di café, di hotel maupun di mall. Berbaur dalam sorak-sorai, merayakan kemenangan, kecewa dalam kekalahan, larut dalam kebahagiaan, hingga terbuai oleh kekesalan. Kita bias melihat persoalan itu dalam karya-karya I Wayan Danu, bahwasannya menang atau kalah sebagai pertaruhan yang utama pada sepak bola. Bila sebuah tim menang dalam berlaga,tentu saja tak ada persoalan baru yang timbul kecuali kebahagiaan itu sendiri. Lain halnya bagi yang kalah, akibat yang muncul dari situasi itulah yang secara spesifik diungkap dalam karya-karya Wayan Danu.

Made Arya Dwita (Dedok) dan Ngurah Paramartha punya cara lain untuk menelaah ajang Piala Dunia ini. Dedok menggunakan metaphor Barong berwujud Babi (Barong Bangkal) dan berwujud Macan (Barong Macan) untuk menggambarkan semangat kebersamaan yang perlu ditanamkan mulai dari diri sendiri dalam bermain bola. Jauh dari kekerasan atau anarkisme dari para pendukung seperti dalam pemandangan sepak bola di tanah air. Pertandingan sepak bola tidak harus dibarengi dengan prilaku yang berbau kekerasan, melainkan bisa dengan cara yang sebaliknya yakni, cinta,perdamaian, dan kelembutan. Dengan cara itu lah Ngurah memetaforkan figur perempuan untuk memaknai permainan sepak bola dalam karya-karyanya. Lembut,cinta kasih dan tentu sportifitas yang tinggi.

Keriuhan orang-orang dengan “sang bola bundar” Piala Dunia memang sungguh luar biasa. Kita bisa saksikan segala gejolak tentang hal itu semua dalam karya-karya Wayan Sadu, I Made Kaek, I Gede Surya Darma, maupun Pande Nyoman Alit Wijayasuta. Barangkali kita memang tak pernah menyadari telah menjadi dan dibikin histeria. Ada kesengajaan dibentuk menjadi hysteria terhadap Piala Dunia, karena memang ada kesadaran tertentu yang menggerakkan; organisasi, manajemen, ideologi, identitas kolektif, kekuasaan politik serta ekonomi. Di ranah ini, media seperti Koran, radio, internet dan televisi yang paling berperan membentuk orang-orang menjadi histeria. Emosional kita diganggu, pikiran kita diarahkan, rasa penasaran kita digoda, dipancing, diprovokasi hingga sedemikian rupa, bahkan dari jauh-jauh hari selalu diusik supaya benar-benar memusat ke sana. Dengan media-media tersebut apa yang terjadi di belahan benua sana mampu disaksikan di belahan benua lain dalam waktu yang bersamaan. Dengan percepatan komunikasi dan informasi semacam ini sangat membantu proses globalisasi budaya massa dalam konsumerisme internasional. Melalui representasi tanda, posisi media disini ibaratnya “tuan” bagi siapa saja. Segala aspek yang menyangkut tentang sepak bola atau lebih tepatnya yang berhubungan langsung dengan Piala Dunia, tentang tim maupun bintang-bintangnya dari negara-negara di belahan dunia sana disuguhkan secara dramatis dan membabi buta untuk menggiring kita semua. Tak ayal bila media semacam televisi saling bersaing untuk memperoleh hak siar resmi meskipun harus membayar mahal karena ada nilai ekonomi yang tinggi. Toh, dengan memperoleh hak siar tersebut, stasiun televisi yang menayangkan kemasan siaran langsung sudah dipastikan dapat menumpuk keuntungan ekonomi berlipat ganda dari perolehan iklan yang mengisi tayangan tersebut. Di samping itu, pihak stasiun televisi masih bisa mengemas acara ‘nonton bareng’ yang pengelolaannya berkerjasama dengan berbagai venue (cafe, restoran, mall) telah menembus di atas 2000 venue members.

Ya, begitulah “Pesona Piala Dunia”...!!! Kita hanya sebuah “tendangan pojok/corner kick” yang mencoba mencetak gol dari sudut sempit. Mencoba ambil bagian dan histeria dalam pesta bola di Afrika

 

Yogyakarta, 15 Juni 2010

A.Anzieb 

Bali Painting and Gallery - Tanah Tho Gallery

Painting Inquiry


No Painting currently added.

Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us