Sebagai awal, Galeri Tanah Tho mulai mengepakkan sayap dengan menghadirkan sebelas perupa, yakni Wayan Sudarna Putra, Ketut Lekung Sugantika, Ni Nyoman Sani, Wayan Wirawan, Made Arya Palguna, Ida Bagus Putu Purwa, Komang Gde Teja Mulya, Gede Suanda, Wayan Paramartha, Kan Kulak, hingga Kriyono. Banyak hal yang dapat diselidik dari kehadiran perupa-perupa kontemporer Bali ini, satu diantaranya terkait dengan antusiasme kerja kreatif sekaligus solidaritas untuk menyuburkan seni rupa Bali.
Pernyataan ini beranjak dari kenyataan empiris bahwa dalam beberapa tahun terakhir intensitas even pameran seni rupa begitu ramai. Para perupa kontemporer—beberapa di antaranya adalah sebelas perupa di atas—menjadi aktor dan aktris yang diburu untuk serta dalam even-even tersebut. Dapat dibayangkan betapa sibuknya jam kreatif mereka. Beruntung, kehadiran Galeri Tanah Tho tetap mereka sambut dengan gempita kerja kreatif. Satu alasan yang sekiranya lekat dengan itikad ini, adalah kehendak untuk berkontribusi bagi iklim kreatif di Bali. Kegairahan ini juga memantik harapan akan tumbuhnya sinergi mutualistik dalam art world seni rupa Bali ke depan.
Tak ada yang bisa menolak memang, bahwa keberlangsungan siklus cipta-mencipta, berikut pusaran diskursus wacana yang dikehendaki, dan juga pasar jual-beli hanya dapat berlangsung dalam kondisi-kondisi kesepahaman yang sebangun antar semua komponen suprastruktur. Sirnah, atau mulai meredupnya kesepahaman bersama tak terpungkiri lagi akan menjadi tanda kematian praktik cipta-mencipta, pula mulai melenyapnya kegairahan pemikiran, dan hambarnya suasana jual-beli. Inilah konsep yang ditengarai oleh sosiolog seni Howard S. Becker sebagai Art World; tatanan suprastruktur penentu hidup-matinya seni (seni rupa). Seni rupa memang tak lagi entitas eksotik yang berdiam di kolong kehidupan eksentrik para penyamun. Melainkan telah menjadi bagian gaya hidup urban metropolitan. Eksistensinya dirayakan, dipuja, dikritik, sekaligus dievaluasi secara terus menerus. Sudah pasti siapa pun yang lambat memahami kondisi-kondisi seperti ini hanya akan terdampar dalam nostalgia berkepanjangan.
Berpaling ke soal kerja kreatif sebelas perupa yang tampil ini, perhatian kita terpencar, tidak saja oleh gejala visual karya mereka yang bervariasi, juga oleh tutur konsep yang dilontarkan pun sangat plural. Bingkai paling dasar yang bisa dirajut hanyalah tentang figurasi dan skill kesenirupaan. Figurasi menjadi tema sekaligus ruang studi yang menonjol, terlihat pada karya-karya Purwa, Suanda, Sani, Wirawan, Paramartha dan juga pada pelukis senior Kriyono. Sementara Sudarna Putra, Teja Mulya, Lekung Sugantika, dan Palguna lebih ke eksplorasi tubuh dan objek dalam payung narasi tertentu. Sementara Kan Kulak menjelajahi dunia landscape.
Kegelisahan terhadap tubuh memang tak pernah lekang dieksplorasi perupa kontemporer kita. Tubuh dalam berlapis tafsir wacana, juga barangkali yang menyentuh ke demensi ideologis, terbukti telah memanjakan perhatian kita sejak lama. Persoalan tubuh—dengan tanpa meniadakan jiwa di dalamnya—memang telah menyemarakkan idiom perupaan dan wacana seni rupa kontemporer. Hal ini pula yang hendak dibagi kepada publik seni rupa Bali dari even perdana Galeri Tanah Tho ini. Selamat menikmati,
Wayan Kun Adnyana
| Home | Exhibitions | Artists | Gallery | Photos | Articles | Links | Contact Us |