Bagi seorang perupa, entah itu Anda, saya atau pun yang lain, sepertinya memiliki pendapat yang sama—paling tidak mirip—dalam memandang betapa sebuah ruang seni; tempat di mana capaian artistik dapat disosialisasikan, adalah hal penting bagi kelangsungan hidup kesenian dan kesenimanan. Harapan terhadap sebuah ruang bervisi baik, tak lepas dari syarat makro tatanan dunia seni rupa kini yang lebih berdasar pada jalinan proses kerjasama berkelanjutan antara perupa, galeri (art space), kurator, kolektor, dan lain-lain. Untuk itulah kehadiran Galeri Tanah Tho yang dirintis pelukis Dewa Gde Ardhana bersama putranya Dewa Gde Putra sangatlah disambut antusias kalangan perupa. Tanah Tho, yang menunjuk pada pengertian ihwal sebuah tempat berkilau cahaya, dapat dipahami sebagai landasan untuk mengorbitkan visi baru dari sebuah ruang seni baru.
Puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, karena berkat rahmatNya rencana pembukaan Galeri Tanah Tho, sekaligus diiringi pameran perdana yang melibatkan sebelas perupa kontemporer dapat terlaksana sesuai rencana. Tentu saja hal ini juga karena dukungan semua pihak, baik perupa, pencinta seni, dan juga kurator seni rupa.